Lomba Inovasi Daerah

Tahun 2025

Lomba Inovasi Daerah

Tahun 2025

Data Inovasi

Nama Inovasi SIBESTI Song Ite Belojo di Swalayan Literasi
Bentuk Inovasi Pelayanan Publik
Inisiator Inovasi A. Rafik, S. Pd.I
Tahapan Inovasi Penerapan
Jenis Inovasi Digital
Urusan Inovasi Pendidikan
Rancang Bangun
Inovasi di bidang literasi kini menjadi fokus perhatian untuk menjawab tantangan ini. Teknologi yang berkembang pesat telah membuka peluang bagi terciptanya berbagai metode baru dalam mengakses dan menyebarkan informasi. Perpustakaan digital, aplikasi membaca interaktif, hingga program literasi berbasis komunitas kini menjadi bagian dari solusi untuk meningkatkan keterampilan literasi secara inklusif dan berkelanjutan. Pemerintah dan berbagai lembaga pendidikan, baik formal maupun non-formal, telah berupaya memperkenalkan program-program inovatif yang tidak hanya meningkatkan akses literasi, tetapi juga menumbuhkan minat baca yang berkelanjutan di masyarakat. namun dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Sekolah, maka perlu berinovasi dalam bentuk sederrhana.

landasan hukum SIBESTI didasarkan pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, yang menekankan pentingnya literasi sebagai bagian integral dari pendidikan karakter di sekolah. Inovasi ini juga sesuai dengan arahan pemerintah daerah untuk mendorong pembaruan di bidang pendidikan melalui inisiatif yang ramah anggaran dan efisien. Inovasi SIBESTI (Swalayan Literasi) dirancang sebagai solusi inovatif untuk mengatasi keterbatasan fasilitas perpustakaan di sekolah, terutama di lingkungan dengan akses literasi yang masih minim. Dengan pendekatan mandiri, SIBESTI memungkinkan siswa mengakses bahan bacaan secara fleksibel dan bertanggung jawab tanpa memerlukan staf perpustakaan khusus. Konsep ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya literasi di kalangan pelajar sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan secara inklusif.

Sebelum SIBESTI, literasi di sekolah bergantung pada koleksi buku kelas dan terbatas pada jam pelajaran saja, membuat akses siswa terhadap bahan bacaan sangat minim. Setelah penerapan SIBESTI, siswa dapat mengakses bahan bacaan kapan saja melalui perpustakaan mini mandiri yang ditempatkan di lokasi strategis, dengan sistem peminjaman dan pengembalian yang dikelola secara mandiri. Upaya ini dirancang agar akses lebih fleksibel, terjangkau, dan efektif, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa dalam menggunakan fasilitas literasi. munculnya ide inovasi ini juga berawal dari hasil rapor sekolah pada tahun 2022 masih berada pada level bawah pada indicator Literasi dan Numerasi. Setelah dilakukan ekplorasi bersama guru dan warga sekolah, bahwa kompetensi membaca teks informasi berada pada skor 48,47, kompetensi membaca teks sastra berada pada skor 56,44, menemukan isi teks pada skor 55,11 dan kompetensi mengintrepretasi berada pada skor 48,01. Dari hasil rapor tersebut, kepala sekolah bersama dengan guru berusaha mencari akar permaslahannya dan bersama sama mencari solusi. Setelah ditelusuri pokok permasalahannya ternyata sekolah belum memiliki sarana perpustakaan yang memadai, bangunan perpustakaan yang dimiliki tidak bisa difungsikan lagi, terpaksa buku-bku bacaan dipindahkan di ruangan lain yang kurang kondusif. sehingga siswa tidak memiliki wadah atau tempat untuk mencari informasi dan membaca buku, mengakses dan mengintrepretasi bahan bacaan terutama buku non-teks, sehingga kepala sekolah bersama dengan warga sekolah sepakat untuk melakukan inovasi sederhana yaitu dengan menata buku buku bacaan pada rak yang bisa dipindah pindah di lorong antara ruang tata usaha dan ruang kepala sekolah. Kegiatan ini kami beri nama swalayan literasi. Karena pelaksanaan kegiatannya tidak dilayani oleh petugas khusus layaknya perpustakaan, tetapi siswa langsung memilih buku untuk dibaca sesuai keinginannya layaknya seperti kita belanja di swalayan. Inovasi ini kami beri nama SIBESTI ( Song Ite belojo di swalayan literasi). Ide ini saya tawarkan kepada warga sekolah sebagai solusi alternative untuk pemenuhan literasi siswa.

Pada level makro, literasi di daerah terpencil masih menjadi tantangan besar, mengingat keterbatasan sumber daya dan akses yang terbatas ke perpustakaan formal. Di tingkat mikro, sekolah yang tidak memiliki perpustakaan representatif menghadapi tantangan besar dalam menumbuhkan minat baca di kalangan siswa. Hal ini diperparah dengan keterbatasan fasilitas, anggaran, dan kendala tenaga perpustakaan, yang menghambat akses literasi siswa secara optimal.
Di swalayan literasi buku buku non-teks ditata diatas rak rak yang dapat dipindah pindah layaknya swalayan, setiap jenis buku diberi label untuk memudahkan siswa memilih buku sesuai keinginannya. Di sibesti selain siswa membaca secara langsung melaui buku buku yang sudah ditata pad arak buku, siswa juga bisa mengakses buku buku teks dan non teks secara online melalui e-book perpustakaan daerah dan SIBI (system perbukuan Indonesia) yang disediakan oleh kemendikbudristek dengan menggunakan tablet dan chroombook yang sudah disediakan di swlayan literasi. Siswa cukup menscan barcode yang disediakan di sibesti untuk langsung masuk pada laman fasilitas on-line yang mereka inginkan. Di sibesti sudah difasilitasi jaringan internet yang lancar melalui starlink. Di swalayan literasi kami juga menyediakan tv android dan bangku tempat duduk sewaktu waktu digunakan oleh guru untuk kegiatan pembelajaran di luar kelas.

Tahapan Inovasi/Penggunaan Produk Spesifikasi Produk
  1. Analisis Kebutuhan dan Perencanaan: Mengidentifikasi kebutuhan bahan bacaan dan lokasi strategis, serta melibatkan komite sekolah untuk mendukung penyediaan buku melalui donasi.
  2. Pengumpulan dan Klasifikasi Koleksi Buku: Mengumpulkan buku dari berbagai sumber, seperti sumbangan dan pembelian sekolah, serta mengklasifikasikannya agar mudah diakses siswa.
  3. Penyediaan Fasilitas dan Infrastruktur: Memasang rak, meja, dan poster petunjuk yang ditempatkan di area strategis sekolah yang mudah dijangkau siswa.
  4. Implementasi Sistem Peminjaman Mandiri: Mengembangkan sistem sederhana dengan buku catatan peminjaman agar siswa mencatat peminjaman dan pengembalian secara mandiri.
  5. Sosialisasi dan Pelatihan Singkat: Menyediakan bimbingan awal kepada siswa untuk memahami sistem peminjaman dan pengembalian.
  6. Monitoring dan Evaluasi Berkala: Menyediakan catatan peminjaman dan melakukan evaluasi rutin untuk meninjau efektivitas serta kebutuhan pengembangan koleksi.
Tujuan Inovasi
  1. melakukan transformasi digital dalam kegiatan literasi melalui penggunaan tablet dan smartphone bagi siswa
  2. Inovasi ini bertujuan untuk menghadirkan suasana baru bagi siswa untuk lebih bersemangat lagi dalam  membaca buku teks yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan.
  3. selain itu Swalayan Literasi juga bertujuan Memberikan edukasi kepada siswa akan arti pentingnya membaca dan belajar untuk memperluas wawasan dimanapun dan kapanpun tanpa terhalang waktu
  4. Meningkatkan Akses Literasi: Menyediakan akses mudah bagi siswa untuk mendapatkan bahan bacaan kapan saja tanpa terikat pada jam perpustakaan atau kehadiran staf khusus.
  5. Mendorong Minat Baca Siswa: Membangun minat baca melalui konsep swalayan, yang memungkinkan siswa bebas memilih buku sesuai minat mereka.
  6. Membangun Tanggung Jawab dan Kemandirian: Mengajarkan siswa untuk bertanggung jawab dalam peminjaman dan pengembalian buku melalui sistem peminjaman mandiri.
  7. Mengembangkan Budaya Literasi di Sekolah: Menanamkan budaya literasi yang kuat di kalangan siswa melalui penyediaan bahan bacaan yang variatif dan mudah diakses.
Manfaat Inovasi

Selain untuk kegiatan siswa belajar dan membaca buku fiksi dan buku cerita, Swalayan Literasi juga dimanfaatkan oleh guru mata pelajaran untuk melaksanakan kegiatan di luar kelas, karena sibesti juga menyediakan smart tv untuk dimanfaatkan secara bergiliran.

mempermudah akses informasi karena Swalayan literasi juga menfasilitasi siswa non-muslim untuk mengakses pembelajaran sesuai agama yang dianutnya melalui akses buku on-line. Ketika pembelajaran PAI berlangsung, maka siswa non-muslim diarakan ke sibesti, karena sekolah belum memilliki guru agama non-islam. Dengan demikian hak siswa untuk mendapatkan pendidikan agama yang sama dengan temannya yang beragama islam bisa terpenuhi

Adapun Manfaat yang lebih meluas antara lain :
  1. Meningkatkan Akses Literasi bagi Siswa: SIBESTI memberikan siswa akses yang lebih luas terhadap buku dan bahan bacaan yang bervariasi, memungkinkan mereka untuk mengembangkan minat baca dan keterampilan literasi secara mandiri.
  2. Peningkatan Minat Baca: Dengan menyediakan berbagai jenis buku yang dapat dipilih secara bebas, SIBESTI dapat mendorong siswa untuk lebih tertarik membaca, baik untuk kebutuhan akademik maupun hiburan.
  3. Pengembangan Kemandirian dan Tanggung Jawab: Melalui sistem peminjaman mandiri, siswa belajar mengelola waktu dan bertanggung jawab atas buku yang mereka pinjam, mengembangkan kedisiplinan dan rasa tanggung jawab pribadi.
  4. Meningkatkan Kualitas Pendidikan: Dengan memperkaya sumber belajar, SIBESTI mendukung proses pembelajaran di luar ruang kelas, yang memperkuat pemahaman dan kreativitas siswa.
  5. Penyelesaian Masalah Kekurangan Fasilitas Perpustakaan: SIBESTI merupakan solusi inovatif di sekolah yang tidak memiliki perpustakaan yang memadai, memberikan fasilitas literasi yang sederhana namun efektif dan efisien.
  6. Efisiensi Pengelolaan Sumber Daya: Dengan biaya operasional yang rendah dan penggunaan ruang yang efektif, SIBESTI memungkinkan sekolah untuk menyediakan fasilitas literasi tanpa membutuhkan anggaran besar atau staf khusus.
  7. Membangun Budaya Literasi di Komunitas Sekolah: Inovasi ini turut membangun budaya literasi yang lebih kuat di lingkungan sekolah, mendorong siswa dan staf untuk lebih aktif membaca dan berbagi pengetahuan.
  8. Replikasi dan Dapat Digunakan di Sekolah Lain: Konsep SIBESTI yang sederhana, fleksibel, dan biaya rendah membuatnya mudah untuk diadopsi dan diterapkan di sekolah-sekolah lain yang membutuhkan solusi serupa.
Hasil Inovasi


Dari inovasi literasi melaui Swalayan Literasi yang telah berjalan kurang lebih dua tahun belakangan, maka memiliki pengaruh yang signifikan terhadap literasi siswa, hal ini dibuktikan dengan rapor sekolah pada tahun 2023 yang mengalami kenaikan skor. Pada kompetensi membaca teks informasi awalnya pada skor 48,47 mengalami kenaikan 9% menjadi 52,71. Kompetensi membaca teks sastra awalnya 56,44 naik sebesar 2% menjadi 57,54. Pada kompetensi mengakses dan menemukan isi teks, awalnya 55,11 mengalami kenaikan 8% menjadi 59,64 dan kemampuan mengintrepetasikan dan memahami isi teks awalnya berada pada skor 48,01 naik 10% menjadi 52,96. Meskipun prosentase kenaikan masih tergolong kecil, kami yakin bahwa hasil ini meruoakan pengaruh dari inovasi sederhana yang kami lakukan ini. Upaya ke depannya kami akan senantiasa menambah konten konten yang lebih menarik lagi untuk dikembangkan di swalayan liuterasi.

Waktu Ujicoba 05-03-2024
Waktu Implementasi 05-06-2024

Keterisian Indikator

No Indikator Keterangan Parameter Bukti Dukung Skor
1 Regulasi Inovasi * Regulasi yang menetapkan nama-nama inovasi daerah yang menjadi landasan operasional penerapan inovasi daerah
2 Ketersediaan SDM Terhadap Inovasi Daerah * Jumlah SDM yang mengelola inovasi daerah (Tahun Terakhir)
3 Dukungan Anggaran Anggaran Inovasi Daerah dalam APBD dengan tahapan inisiasi (Penyampaian ide, rapat, proposal, penulisan kajian), ujicoba (pilot project, perekayasaan, laboratorium lapangan, dan sejenisnya), dan penerapan (penyediaan sarana prasarana, sumber daya manusia dan layanan, bimtek, urusan jenis layanan)
4 Alat Kerja Alat kerja dalam pelaksanaan Inovasi yang diterapkan
5 Bimtek Inovasi Peningkatan kapasitas dan kompetensi pelaksana inovasi daerah baik sebagai penyedia atau penerima bimtek
6 Integrasi Program Dan Kegiatan Inovasi Dalam RKPD Inovasi Perangkat Daerah telah dituangkan dalam program pembangunan daerah
7 Keterlibatan aktor inovasi Keikutsertaan unsur Stakeholder dalam pelaksanaan inovasi daerah (T-1 dan T-2)
Unsur Stakeholder meliputi:
Pemerintah;
Pelaku Bisnis;
Komunitas;
Akademisi;
Media Massa, dsb
8 Pelaksana Inovasi Daerah Penetapan Tim pelaksana inovasi daerah
9 Jejaring Inovasi Jumlah Perangkat Daerah yang terlibat dalam penerapan inovasi (dalam 2 tahun terakhir)
10 Sosialisasi Inovasi Daerah Penyebarluasan informasi kebijakan inovasi daerah (2 tahun terakhir)
11 Pedoman Teknis Ketentuan dasar Penggunaan inovasi daerah berupa buku petunjuk/manual book
12 Kemudahan Informasi layanan Kemudahan mendapatkan informasi layanan
melalui metode sebagai berikut :
Manual, seperti: tatap muka/jemput bola/noken/unit pelayanan administrasi;
Hotline, seperti: layanan email/telp;
Media Sosial, seperti: instagram/facebook/whatsapp, dsb;dan
Layanan Online, melalui website/web-aplikasi/aplikasi mobile (android atau ios).
13 Kemudahan Proses Inovasi yang Dihasilkan Waktu yang diperlukan untuk memperoleh proses penggunaan hasil inovasi
14 Penyelesaian Layanan Pengaduan Rasio Penyelesaian Pengaduan dalam tahun terakhir (Jumlah Pengaduan yang ditindaklanjuti/Jumlah Pengaduan
15 Layanan Terintegrasi Jaringan Prosedur yang dibuat secara daring (2 tahun terakhir)
16 Replikasi Inovasi Daerah telah direplikasi oleh daerah lain (T-2 s/d T-1)
17 Kecepatan Inovasi * Satuan waktu yang digunakan untuk menciptakan inovasi daerah
18 Kemanfaatan Inovasi * Jumlah pengguna atau penerima manfaat inovasi daerah (2 tahun terakhir)
19 Monitoring dan evaluasi Inovasi Daerah Kepuasan pelaksanaan penggunaan inovasi daerah (2 tahun terakhir)
20 Kualitas Inovasi Daerah * Kualitas inovasi daerah dapat dibuktikan dengan video penerapan inovasi daerah (2 Tahun Terakhir)
Data Pendukung:
ketentuan video memvisualisasikan 5 substansi:
1. Latar belakang inovasi;
2. Penjaringan ide;
3. Pemilihan ide;
4. Manfaat inovasi; dan
5. Dampak inovasi.
Video inovasi dilengkapi dengan cover thumbnail dan ada logo Kabupaten Natuna dan Kemendagri.