Lomba Inovasi Daerah

Tahun 2023

Lomba Inovasi Daerah

Tahun 2023

Data Inovasi

Nama Inovasi Labor Cerdas Pengembangan Kegiatan Ekstrakurikuler Bedah KIT IPA Sebagai Strategi Optimalisasi Pembelajaran IPA di Sekolah
Bentuk Inovasi Pelayanan Publik
Inisiator Inovasi Diki Darmawan
Tahapan Inovasi Penerapan
Jenis Inovasi Non Digital
Urusan Inovasi Pendidikan
Rancang Bangun
 Pembelajaran abad 21 dapat diartikan sebagai pembelajaran yang memberikan kecakapan kepada peserta didik yaitu, 4C yang meliputi, (1) communication, (2) collaboration, (3) critical thingking and problem solving, dan (4) creative and innovative. Pendidikan abad 21 juga menekankan HOTS (Higher Other Thingking Skills), intregrasi literasi dan PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) dalam proses belajar mengajar.
  Kegiatan ektrakurikuler sebagai wadah pengembangan potensi peserta didik, dapat memberikan dampak positif dalam penguatan pendidikan karakter. Satuan pendidikan memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler sebagai wahana memfasilitasi pengembangan bakat dan minat peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah adalah kegiatan pengembangan karakter dalam rangka perluasan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama dan kemandirian peserta didik secara optimal yang dilakukan di luar jam belajar.
  Pembelajaran IPA akan lebih baik lagi jika ada ruang laboratorium. Pengadaan ruang laboratorium sangat penting di sekolah untuk melaksanakan kegiatan praktikum. Sarana dan prasarana yang sudah tersedia pada laboratorium seperti KIT IPA sangat membutuhkan suatu teknik pengelolaan yang baik agar laboratorium tersebut dapat digunakan dalam waktu jangka panjang. Dalam dunia pendidikan laboratorium berfungsi sebagai tempat untuk berlatih mengembangkan keterampilan intelektual melalui kegiatan pengamatan, pencatatan gejala-gejala alam dan mengembangkan keterampilan motorik peserta didik. Laboratorium digunakan sebagai sumber belajar akan lebih baik apabila dikelola terlebih dahulu sebelum dipergunakan oleh para penggunanya. Adanya pengelolaan yang baik dapat membantu dan memudahkan guru maupun peserta didik dalam penggunaan laboratorium.
  Penggunaan alat peraga atau KIT IPA sangat dibutuhkan dalam pengajaran IPA yang menerapkan pendekatan keterampilan proses, agar pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi peserta didik. Peranan alat peraga atau KIT IPA antara lain dapat, (1) Mengaktifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan peserta didik serta antar peserta didik dengan peserta didik dalam pembelajaran. (2) Merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan peserta didik dalam pembelajaran sehingga memberikan pengalaman belajar lebih bermakna bagi peserta didik, (3) Membangkitkan keinginan dan minat belajar peserta didik, (4) Membangun dasar-dasar untuk perkembangan belajar sehingga membuat pelajaran lebih lama di ingat. Serta (5) Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kemandirian peserta didik.
  Kurang optimalnya penggunaan KIT IPA di laboratorium membuat proses pembelajaran IPA kurang efektif. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kurang optimalnya penggunaan KIT IPA di sekolah seperti, (1) kesulitan guru dalam mempersiapkan dan mengemas peralatan praktikum. Dalam kegiatan pembelajaran yang melaksanakan praktikum menuntut seorang guru harus mempersiapkan segala alat dan bahan praktikum yang disesuaikan dengan jumlah kelompok – kelompok belajar peserta didik di kelas. Hal ini menyebabkan guru enggan melaksanakan praktikum dikarenakan terpotongnya waktu dalam mempersiapkan praktikum. (2) kurang terampilnya peserta didik dalam melaksanakan praktikum. Dalam melaksanakan praktikum menuntut penjelasan secara jelas oleh guru dan di cerminkan dalam lembar kerja peserta didik. Namun masih banyak peserta didik yang kesulitan dalam mencerna dan melaksanakan praktikum dari penjelasan guru dan panduan lembar kerja peserta didik. (3) banyak nya waktu yang dibutuhkan dalam melaksanakan praktikum. dalam pelaksanaan praktikum biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama. Beberapa faktor tersebut membuat proses pembelajaran IPA yang menggunakan sarana KIT IPA untuk praktikum cenderung di tinggalkan oleh guru.
  Dari latar belakang tersebut diperlukan sebuah terobosan baru yang dapat mengoptimalkan pembelajaran IPA di sekolah salah satunya penggunaan laboratorium terkhusus dalam kegiatan praktikum menggunakan KIT IPA di sekolah. Pengembangan kegiatan ekstrakurikuler yang menumbuhkan minat dan potensi peserta didik dalam pembelajaran IPA menjadi alternatif yang solutif dalam mengoptimalkan pembelajaran IPA di sekolah salah satunya penggunaan laboratorium terutama pada kegiatan Bedah KIT IPA di sekolah. Oleh karena itu penulis berinisiatif melakukan inovasi pendidikan yang berjudul Pengembangan Kegiatan Ekstrakurikuler Bedah KIT IPA Sebagai Strategi Optimalisasi Pembelajaran IPA di Sekolah.
Tujuan Inovasi
Berdasarkan  pada    permasalahan  tersebut  tujuan dibuatnya inovasi ini adalah untuk
  1. Mengetahui pengembangan kegiatan ekstrakurikuler Bedah KIT IPA dapat mengoptimalisasi pembelajaran IPA di sekolah.
  2. Mengetahui pengembangan kegiatan ekstrakurikuler Bedah KIT IPA dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Manfaat Inovasi
Manfaat yang diharapkan diperoleh dari pembuatan inovasi ini adalah :
  1. Manfaat Teoritis                                                            
Inovasi ini bermanfaat untuk pengembangan kegiatan ekstrakurikuler Bedah KIT IPA di sekolah.
  1. Manfaat Praktis
Inovasi ini bermanfaat untuk meningkatkan minat dan potensi serta hasil belajar peserta didik, serta meningkatkan keterampilan guru dalam mengelola dan melaksanakan pembelajaran IPA berbasis kegiatan ekstrakurikuler.
Hasil Inovasi
Berdasarkan hasil Inovasi yang diperoleh di lapangan, dapat dirumuskan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
  1. Pengembangan kegiatan ekstrakurikuler Bedah KIT IPA memiliki dampak positif dalam mengoptimalisasi pembelajaran IPA di sekolah yang ditunjukkan dengan persentase aspek yang diamati bagi guru dan peserta didik seperti kemudahan dalam mempersiapkan aktivitas peralatan praktikum sebelum pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Bedah KIT IPA memiliki presentase nilai 25 % meningkat menjadi 43,75 %. Kemudahan dalam mengontrol aktivitas praktikum sebelum pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Bedah KIT IPA memiliki presentase nilai 25 % meningkat menjadi 50 %. Waktu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan praktikum relatif lebih singkat sebelum pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Bedah KIT IPA memiliki presentase nilai 25 % meningkat menjadi 50 %. Ketercapaian penguasaan materi dalam praktikum relatif lebih baik sebelum pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Bedah KIT IPA memiliki presentase nilai 25 % meningkat menjadi 43,75 %.
  2. Pengembangan kegiatan ekstrakurikuler Bedah KIT IPA memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar peserta didik yang ditunjukkan dengan persentase ketuntasan belajar sebelum pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Bedah KIT IPA yakni 43,47 %, meningkat sebesar 34,79 % menjadi 78,26 % setelah pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Bedah KIT IPA.
Waktu Ujicoba 10-01-2022
Waktu Implementasi 07-02-2022

Keterisian Indikator

No Indikator Keterangan Parameter Bukti Dukung Skor
1 Regulasi Inovasi * Regulasi yang menetapkan nama-nama inovasi daerah yang menjadi landasan operasional penerapan inovasi daerah
2 Ketersediaan SDM Terhadap Inovasi Daerah * Jumlah SDM yang mengelola inovasi daerah (Tahun Terakhir)
3 Dukungan Anggaran Anggaran Inovasi Daerah dalam APBD dengan tahapan inisiasi (Penyampaian ide, rapat, proposal, penulisan kajian), ujicoba (pilot project, perekayasaan, laboratorium lapangan, dan sejenisnya), dan penerapan (penyediaan sarana prasarana, sumber daya manusia dan layanan, bimtek, urusan jenis layanan)
4 Alat Kerja Alat kerja dalam pelaksanaan Inovasi yang diterapkan
5 Bimtek Inovasi Peningkatan kapasitas dan kompetensi pelaksana inovasi daerah baik sebagai penyedia atau penerima bimtek
6 Integrasi Program Dan Kegiatan Inovasi Dalam RKPD Inovasi Perangkat Daerah telah dituangkan dalam program pembangunan daerah
7 Keterlibatan aktor inovasi Keikutsertaan unsur Stakeholder dalam pelaksanaan inovasi daerah (T-1 dan T-2)
Unsur Stakeholder meliputi:
Pemerintah;
Pelaku Bisnis;
Komunitas;
Akademisi;
Media Massa, dsb
8 Pelaksana Inovasi Daerah Penetapan Tim pelaksana inovasi daerah
9 Jejaring Inovasi Jumlah Perangkat Daerah yang terlibat dalam penerapan inovasi (dalam 2 tahun terakhir)
10 Sosialisasi Inovasi Daerah Penyebarluasan informasi kebijakan inovasi daerah (2 tahun terakhir)
11 Pedoman Teknis Ketentuan dasar Penggunaan inovasi daerah berupa buku petunjuk/manual book
12 Kemudahan Informasi layanan Kemudahan mendapatkan informasi layanan
melalui metode sebagai berikut :
Manual, seperti: tatap muka/jemput bola/noken/unit pelayanan administrasi;
Hotline, seperti: layanan email/telp;
Media Sosial, seperti: instagram/facebook/whatsapp, dsb;dan
Layanan Online, melalui website/web-aplikasi/aplikasi mobile (android atau ios).
13 Kemudahan Proses Inovasi yang Dihasilkan Waktu yang diperlukan untuk memperoleh proses penggunaan hasil inovasi
14 Penyelesaian Layanan Pengaduan Rasio Penyelesaian Pengaduan dalam tahun terakhir (Jumlah Pengaduan yang ditindaklanjuti/Jumlah Pengaduan
15 Layanan Terintegrasi Jaringan Prosedur yang dibuat secara daring (2 tahun terakhir)
16 Replikasi Inovasi Daerah telah direplikasi oleh daerah lain (T-2 s/d T-1)
17 Kecepatan Inovasi * Satuan waktu yang digunakan untuk menciptakan inovasi daerah
18 Kemanfaatan Inovasi * Jumlah pengguna atau penerima manfaat inovasi daerah (2 tahun terakhir)
19 Monitoring dan evaluasi Inovasi Daerah Kepuasan pelaksanaan penggunaan inovasi daerah (2 tahun terakhir)
20 Kualitas Inovasi Daerah * Kualitas inovasi daerah dapat dibuktikan dengan video penerapan inovasi daerah (2 Tahun Terakhir)
Data Pendukung:
ketentuan video memvisualisasikan 5 substansi:
1. Latar belakang inovasi;
2. Penjaringan ide;
3. Pemilihan ide;
4. Manfaat inovasi; dan
5. Dampak inovasi.
Video inovasi dilengkapi dengan cover thumbnail dan ada logo Kabupaten Natuna dan Kemendagri.